Melakukan keikhlasan, tidaklah semudah
mengatakannya. Sebagaimana pernah diakui oleh seorang ulama besar Sufyan
ats-Tsauri, beliau berkata, “Tidak ada suatu perkara yang paling berat bagiku
untuk aku obati daripada meluruskan niatku, karena niat itu bisa berubah-ubah
terhadapku.”
Namun, bukan berarti ikhlas itu tidak dapat
dilakukan, dan bukan berarti ikhlas tidak dapat diusahakan. Karena ikhlas
adalah suatu ‘ilmu’. Ilmu di mana kita dapat mempelajarinya, dan terus
mempelajarinya, sampai akhirnya kita benar-benar paham akan makna ikhlas.
Ikhlas itu sendiri merupakan hal yang amat sakral, ia adalah perintah dan ia
adalah syarat diterimanya suatu ibadah.
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya
menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan)
agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)



